Parenting – Menumbuhkan Keterampilan Sosial pada Diri Anak

Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir – Podcast SCN Episode 7
May 10, 2020
Parenting – Teladan Nabi dalam Menyayangi Anak
May 20, 2020
Show all

Setiap anak tumbuh dengan masing-masing kemampuan dan kekhususannya, serta kecerdasannya. Orangtua sebagai model yang paling utama dalam kehidupan anak memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Setiap apa yang dilakukan, diucapkan, diperlihatkan oleh orangtua, akan memengaruhi karakter anak, juga memengaruhi keterampilan sosial anak.

Ambil contoh, jika orangtua senantiasa berkata lembut, menghargai, dan senang memuji, akan menimbulkan, kesabaran dan budi pekerti yang baik, rasa percaya dan pengharagaan diri, serta berpikiran optimis dalam belajar atau bekerja.

Ada 7 keterampilan sosial yang esensial yang bisa kita bangun dalam diri anak, dengan cara menunjukkan sikap diri kita sebagai orangtua dan contoh perilaku kita yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai / values dari keterampilan.

Bagaimana pola asuh dan perkembangan anak memiliki ketersambungan? Cara kita bersikap, berinteraksi sebagai orang tua dapat memupuk keterampilan yang dibutuhkan anak-anak — tidak hanya untuk dalam jangka pendek — tetapi di sepanjang hidup mereka.

Berikut adalah 7 hal yang perlu dilakukan dan dicontohkan oleh orangtua:

Pertama, sediakan panduan yang sesuai dengan batas usia anak, dan aturan-aturan tentang perilaku yang mesti dimiliki.
Orangtua perlu mengetahui dan mejadikan semacam ketetapan bagaimana seharusnya menyikapi, merasakan dan meresposn setiap perilaku dari anak.

Melalui hal tersebut, akan memberikan efek kepada adanya kemampuan fokus dan sikap pengendalian diri pada diri anak itu sendiri.

Kedua,

Dalam setiap kesempatan atau sedang bersama anak, mencoba untuk memahami apa yang sedang dilakukan anak lewat persepsi anak itu sendiri, bukan persepsi atau cara berpikir kita sebagai orang dewasa.

Sebagai contoh, anak sedang mendorong-dorong kursi sambil menyuarakan suara mobil yang sedang berjalan. Jangan lantas kita melarang dia atau menghardiknya, karena dalam persepsi kita sebagai orang dewasa, itu tidak baik, membuat berantakan dan lain-lain. Namun dalam persepsi anak itu mengasyikkan, ia sedang bermain peran sebagai seorang pengendara mobil.

Nah, sikap orangtua yang mencoba mempersepsikan apa yang didapati olehnya tentang perbuatan anak, berdasarkan persepsi anak, bukan persepsi orangtua, akan membangun sikap sosial yang disebut ‘perspective taking’. Yaitu kemampuan dalam berpikir perspektif yang beragam, sehingga anak akan belajar tentang pengertian, belajsr mengerti bagaimana perasaan orang lain, kemampuan melihat masalah bukan hanya dari satu sudut pandang saja.

Yang ketiga,

Menanggapi secara sensitif terhadap isyarat anak-anak.
Maksudnya, sebagai orangtua kita perlu memiliki rasa sensitifitas yang tinggi atas apa yang dirasakan akan, atau terhadap perubahan sikap atau perilaku anak.

Hal ini akan membangun dan menumbuhkan sikap sosial berupa kemampuan komunikasi yang efektif, keterbukaan, dan perasaan diperhatikan. Juga hal tersebut akan menumbuhkan kepekaan dalam diri anak-anak.

Kemudian yang keempat,

Perasaan senang di saat terhubung dengan anak-anak, atau saat bertemu dengan mereka.
Misalnya ketika kita menjemput anak saat pulang sekolah, tunjukkan rasa senang, rasa hangat saat bertemu mereka berjalan menuju Anda… menampilkan senyuman saat mereka bertemu Anda, bertanya dan lain sebagainya.

Hal itu akan menumbuhkan perilaku sosial kemampuan berhubungan dengan orang lain, atau sesama teman secara baik – ‘good connection’.

Nabi Muhammad Saw, adalah sosok Ayah yang selalu menampilkan wajah ceria dan hangat di depan putrinya yaitu Fatimah, dan di tengah keluarganya.

Oleh karenanya beliau pernah persabda, “sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik dan bersikap baik terhadap keluarga, dan Aku adalah yang terbaik bagi keluargaku.”

Yang kelima,

Orangtua harus menjadi role model bagi anak-anak. Setipa pola asuh yang dibangun sejak anak masih bayi, akan membekas dalam rekaman otak anak, cara kita bicara akan ditiru anak. Oleh karenya perilaku ini akan melahirkan kemampuan sosial dalam diri anak.

Nah, salah satu hal yang amat penting untuk anak-anak saat ini adalah keterampilan berpikir kritis. Jadi orangtua sebagai role model memengaruhi kemampuan anak dalam berpikir kritis.

Insya Allah tema berpikir kritis akan saya bahas di materi parenting selanjutnya.

Kemudian yang keenam,

Keseimbangan dalam hal pemenuhan kebutuhan, baik kebutuhan kita sebagai orangtua, juga kebutuhan anak-anak. Kenali dan rayakan setiap hal-hal istimewa dalam kehidupan anak. Sehingga mendorong kekuatan mental mereka, dan pertumbuhan psikis mereka.

Hal tersebut akan menumbuhkan kemampuan anak dalam menghadapi berbagai tantangan. Melatih anak dalam mengambil keputusan, menambah kapasitas berpikir anak secara lebih kompleks.

Dan yang ketujuh,

Orangtua perlu memahami, bahwa mendidik anak itu butuh proses, butuh waktu dan terus upaya belajar. Dan dalam perjalanannya tentu akan membuat stress karena berbagai sebab atau faktor, kadang ada hal yang terlewat. Tidak perlu khawatir, karena kita menghadapi suatu masa yang amat berharga, dan tentunya ini juga tantangan bagi kita sebagai orangtua yang wajar terjadi dan alami.

Dari kondisi tersebut, sesungguhnya akan memberikan pengaruh terhadap kemampuan anak untuk membangun hubungan diri, dan kemampuan untuk belajar secara alami. Dari sikap orangtua yang mau belajar akan memengaruhi sikap pembelajar dalam diri anak kelak.

Demikian Ayah Bunda sekalian materi parenting kali ini, untuk mendengarkan via podcast, bisa didengarkan melalui link berikut:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Chat Kami